TUGAS BESAR UAS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS REVIEW 5 JURNAL (2 Internasional )
REVIEW
JURNAL TENTANG SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
DI
SUSUN OLEH :
ARIS
SOFIAN (18.01.013.022)
INFORMATIKA
A 2018
1.GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM OF HIGHER
EDUCATION MAPPING IN BALI ISLAND USING ARCVIEW (Jurnal
Internasional)
A.LATAR
BELAKANG (MASALAH)
Pendidikan Tinggi adalah
jenjang pendidikan tinggi atau
pendidikan lanjutan setelah sekolah menengah pendidikan
atau sederajat. Berdasarkan observasi peneliti di Pulau Bali
khususnya di kota Denpasar sangat
berkembang pesatnya pertumbuhan perguruan
tinggi dengan menyediakan berbagai macam program studi
gitu bahwa informasi tentang perguruan tinggi belum
diketahui secara maksimal oleh masyarakat umum dan sekolah menengah atas alumni
/ sederajat khususnya yang ingin melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Untuk
menyediakan Informasi yang lebih interaktif
dan efektif maka dibangunlah aplikasi informasi geografis
sistem persebaran universitas di pulau Bali dengan
menggunakan Arcview GIS sebagai alat bantu nya.
B.TUJUAN
PENELITIAN
Untuk pengelompokan perguruan tinggi menurut
jenis perguruan tinggi, institut, sekolah menengah, politeknik dan akademi.
Pengelompokan menurut jenis perguruan tinggi di masing-masing kabupaten / kota
di pulau Bali dengan tujuan untuk memudahkan dalam memperoleh informasi jumlah
perguruan tinggi di setiap kabupeten sehingga masyarakat dapat menghitung jarak
tempat tinggal dengan Perguruan tinggi yang diinginkan. Hasil dari penelitian
ini adalah penerapan diseminasi universitas di masing-masing.
C.METODE PENLITIAN
1) Cari data dari internet
2) Observasi lokasi Perguruan Tinggi
3) Tinjauan pustaka
4) Pengumpulan data
5) Proses analisis data (data spasial dan data non spasial)
6) Analisis data non spasial menggunakan ERD (Entity
Relationship Diagram)
7) Proses identifikasi lapisan
8) Proses digitalisasi
D.KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jumlah perguruan tinggi, lembaga,
Politeknik, perguruan tinggi dan akademi menjadi yang paling melimpah di
kabupaten / kota Denpasar. Kota Denpasar masih mendominasi jumlah jenis
perguruan tinggi terbanyak. Di Universitas yang memiliki jumlah fakultas
terbanyak adalah Universitas Udayana berstatus Negeri. Di tipe Politeknik yang
banyak jurusannya adalah Politeknik Bali, untuk akademinya adalah
kepariwisataan Akademi Denpasar dan untuk institutnya adalah ISI Denpasar dan
untuk sekolah menengah atas adalah ST Asing Bahasa Saraswati
2.Using Geographic
Information Systems (GIS) For Spatial Planning and Environmental Management in
India: Critical Considerations (Jurnal Internasional)
A.LATAR
BELAKANG (MASALAH)
Sistem
Informasi Geografis (GIS) adalah alat berbasis komputer yang digunakan untuk
mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi dan menampilkan informasi referensi
spasial. Mereka digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam berbagai
konteks, termasuk perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan. Karena
proses produksi GIS, dari pengembangan perangkat lunak untuk visualisasi
keluaran GIS, ditandai dengan politik, ekonomi dan sosial motivasi, penting
bagi praktisi GIS untuk menyadari isu-isu seperti akses ke data dan politik
ekonomi informasi, dan sifat epistemologi GIS vis-à-vis beberapa persepsi
realitas yang hidup berdampingan.
B.TUJUAN
PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah pengelolaan
lingkungan Sungai Cooum di Chennai, dan untuk mendukung partisipatif Proses
pengelolaan lingkungan dan kesehatan di permukiman kumuh digunakan untuk
menggunakan aplikasi GIS yang sesuai di India. GIS yang didistribusikan melalui
internet sebagai jalan potensial untuk mengatasi masalah akses publik ke data
juga dipertimbangkan.
C.METODE PENLITIAN
Pengembang menanamkan pemahaman mereka sendiri tentang cara menyandikan, memanipulasi, menganalisis, dan mewakili entitas spasial dalam teknologi, misalnya, penggunaan sistem spasial Cartesian, geometri Pythagoras dan Logika Boolean (Sheppard 1995). Pengembang GIS juga memilih dan membuat alat dan kemampuan GIS untuk data pengumpulan, representasi, penyimpanan, analisis dan visualisasi. Karena pengembang GIS menyandikannya sendiri pemahaman tentang perangkat lunak GIS, dan juga membatasi kemampuan GIS hanya untuk mereka yang dianggap berguna dan relevan bagi analis GIS, mereka mendikte bagaimana dunia direpresentasikan dalam GIS. Mereka adalah orang yang disebut Nancy Obermeyer “Teknokrasi GIS yang tersembunyi” (Obermeyer 1995). Poin kedua di mana bias memasuki proses produksi GIS adalah pada tahap desain database ('2' pada Gambar 1). Pada titik ini keputusan dibuat tentang aspek apa dari dunia nyata yang penting untuk direpresentasikan dalam database GIS, bagaimana aspek-aspek ini harus direpresentasikan sebagai entitas spasial, dan penentuan hal-hal seperti pengukuran skala, skema kategorisasi, dan frekuensi pengumpulan data. Proses ini diinformasikan oleh database pandangan dunia pengembang, pelatihan, dan niat dalam mengembangkan database, serta mandat kelembagaan, prosedur dan aturan (Chrisman 1987). Dalam batas-batas apa yang dapat direpresentasikan dalam GIS, database pengembang menentukan kumpulan fenomena apa yang direpresentasikan sebagai nyata, dan bagaimana ini direpresentasikan. Bias juga dapat diperkenalkan pada titik di mana analis GIS memasuki aliran komunikasi budaya.
D.KESIMPULAN
Model
komunikasi yang disajikan pada Gambar 1 memberikan heuristik yang berguna untuk
diterapkan pada kasus yang disajikan atas. Model ini menyaring pertimbangan
dalam literatur GIS Kritis terkait dengan beberapa realitas yang ada bersama
lanskap, akses yang tidak setara ke data dan teknologi, dan perlunya pluralitas
dan partisipasi, untuk itu mengidentifikasi poin-poin dalam proses produksi
informasi yang didukung GIS dan pengambilan keputusan di mana pemangku
kepentingan dapat terlibat dalam produksi dan representasi pengetahuan. Jika
tertanam dalam partisipatif dan proses kolaboratif, keterlibatan ini dapat
memberdayakan komunitas dan mungkin menghindari sosial dan marjinalisasi
spasial di mana aplikasi tradisional teknologi GIS terkadang dikritik. Hal
penting yang dapat ditarik dari diskusi ini, khususnya dari aplikasi PPGIS dan
PGIS hingga Proyek komunitas kumuh Cooum River dan Chennai, adalah kebutuhan
keahlian ilmiah dan teknologi yang diperlukan untuk dilengkapi dengan keahlian
dalam metodologi kolaboratif dan pengembangan partisipatif. Ada yang populer mengatakan
bahwa "ketika yang Anda miliki hanyalah palu, semuanya tampak seperti
paku". Intinya bukanlah membuang "Palu", tetapi untuk
menggunakannya dalam hubungannya dengan tas alat konseptual dan metodologis
yang lebih lengkap. Metode dan alat (seperti GIS) harus dipilih dan diterapkan
dengan cara yang responsif terhadap karakteristik dan konteks masalah, tidak
sesuai dengan sikap disipliner atau epistemologis. Dalam kebanyakan kasus, ini
memerlukan pekerjaan tim interdisipliner dan membutuhkan keterbukaan untuk
mendefinisikan masalah dan menemukan metodologi yang sesuai di kolaborasi
dengan pemangku kepentingan. Baik di proyek kumuh Cooum River dan Chennai
penggunaan GIS diinformasikan oleh pemahaman sosial dan implikasi politik dari
penggunaan teknologi. GIS lebih menonjol dalam penelitian Cooum, dan disimpan
di latar belakang untuk bekerja dengan penghuni permukiman kumuh. Namun, di
kedua program itu dimasukkan dalam proses kolaboratif yang memungkinkan
pemangku kepentingan untuk mengekspresikan versi realitas mereka, dan visi
mereka untuk sesuatu yang diinginkan dan masa depan yang layak.Kemanjuran
proses itu penting, lebih dari sekadar ketelitian ilmiah dari proses tersebut
penerapan GIS untuk masalah tersebut. Kami berpendapat bahwa ini adalah peran yang
tepat dan berguna untuk GIS yang menghindari spasial dan marjinalisasi sosial
dalam perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan. Di sisi lain,
sedangkan file potensi di India untuk aplikasi GIS berbasis web untuk mendukung
partisipasi publik meningkat, ini hanya akan sesuai dalam konteks di mana semua
kelompok memiliki kemampuan dan sumber daya untuk mengakses dan menggunakan
teknologi, atau ketika berbagai cara (di luar GIS) digunakan untuk memastikan
partisipasi semua pemangku kepentingan yang relevan.
3.PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
PEMETAAN TAMAN DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR BERBASIS WEB.(Jurnal
nasional)
A.LATAR BELAKANG (MASALAH)
B.TUJUAN PENELITIAN
C.METODE PENLITIAN
1 Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, peneliti mengumpulkan data untuk mengetahui berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan, sehingga peneliti bisa menentukan pokok-pokok permasalahan yang ada dengan menggunakan berbagai metode sebagai berikut:
1. Observasi : tahapan ini peneliti turun kelapangan untuk mencari
kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman untuk melakukan
pengambilan data titik koordinat tempat taman rekreasi yang ada.
2. Wawancara : peneliti melakukan wawancara kepada pihak terkait
yaitu Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Bidang Pertamanan untuk
mengetahui dimana perencanaan pembangunan taman dan bagaimana taman yang ada.
3. Studi
Pustaka : peneliti mencari berbagai sumber terpercaya dalam studi pustaka untuk
melengkapi dan menjadi referensi terhadap penelitian sistem informasi geografis
taman.
2.Metode
Pengembangan Sistem
Dalam
melakukan pengembangan sistem, peneliti menggunakan metode System Development
Life Circle (SDLC) yang mana tahapannya dimulai dari perencanaan, analasis,
perancangan sistem, implementasi hingga pengujian sistem.
1. Tahapan perencanaan ini peneliti mempersiapkan segala kebutuhan
yang diperlukan dalam penelitian dan juga strategi yang tepat pada saat
membangun sistem informasi pemetaan taman berbasis web.
2. Pada Tahapan analisis peneliti menganalisa seluruh kebutan
sistem baik dari kebutuhan software, hardware, dan juga kebutuhan brainware.
3. Pada tahapan perancangan sistem, peneliti menggunakan
permodelan UML (Unified Modeling Language) karena UML merupakan permodelan yang
menggunakan konsep Object Oriented Programming (OOP) yang memudahkan peneliti
dalam membangun sistem.
4. Tahapan Implementasi peneliti menggunakan bahasa pemrograman
PHP (PHP : Hypertext Preprocessor) dan media pemrograman pendukung lainnya
seperti Google Maps API dan MySqli.
5. Tahapan terakhir, yaitu pengujian sistem dengan menggunakan
metode white box dan black box untuk membaca alur program dan mencari
kemungkinan kesalahan pada saat pembuatan program sistem informasi webGIS
taman.
D.KESIMPULAN
1. Sistem informasi geografis pemetaan
taman di kabupaten Indragiri Hilir memberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai perencanaan
pembangunan taman dan informasi taman yang telah terealisasikan agar mudah diketahui
oleh masyarakat luas.
2. Perancangan sistem tercipta untuk
memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mencari dimana saja letak akurat
wilayah perencanaan pembangunan taman dan taman yang telah terealisasikan di
kabupaten indragiri hilir.
3. Dengan terimplementasinya sistem
informasi geogradis pemetaan taman berbasis web ini, memberikan wadah kepada
pemerintah untuk mempromosikan tempat rekreasi dan wisata di kabupaten
Indragiri Hilir.
4. Sistem
Informasi Geografis Pemetaan Kantor Dinas di Kota Lubuklinggau Berbasis Android
(Jurnal Nasional)
A.LATAR BELAKANG (MASALAH)
Kantor dinas merupakan instansi pemerintah
untuk melayani masyarakat baik dalam bentuk jasa publik maupun barang publik.
Kantor dinas kota Lubuklinggau tidak bertempat pada satu pusat pemerintahan
tetapi menyebar di wilayah kota Lubuklinggau, sehingga masyarakat banyak yang
belum mengetahui letak lokasi kantor dinas. Selain masyarakat kota lubuklinggau
sendiri, banyak pendatang atau investor yang cukup kesulitan mencari lokasi
letak kantor dinas sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan lokasi
letak kantor yang ada di pemerintahan kota Lubuklinggau.
B.TUJUAN PENELITIAN
Dengan adanya Sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau, diharapkan dapat mempermudah masyarakat atau pengguna dalam mencari lokasi kantor dinas yang terdapat di kota Lubuklinggau.
C.METODE
PENLITIAN
Penelitian ini menggunakan model Watefall Alasan menggunakan metode ini dikarenakan di dalam model ini peneliti dalam merancang sistem dan membuat sistem dilakukan secara bertahap. Sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan
A.Requirement
analysis dan definition Pada tahapan ini dilakukan proses analisis data dan
mendefinisikan setiap kebutuhan yang digunakan dalam membuat Sistem informasi
Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau berbasis Android antara lain
kebutuhan antarmuka atau input dan output dimana desian antarmuka harus
representatif, kebutuhan fungsional dari menu dan data yang di simpan dan
informasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan admin dan user, kebutuhan
software yaitu menyiapkan seluruh software yang digunakan untuk membangun
sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau berbasis
Android dan kebutuhan hardware yaitu menyiapkan seluruh hardware yang digunakan
untuk membangun sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota
Lubuklinggau berbasis Android.
B.System sofware
design Pada tahapan ini dilakukan proses desain alur sistem, desain database
dan desain input dan output yang akan digunakan dalam membuat Sistem informasi
Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau berbasis Android.
C. Implementation and
unit testing Pada tahapan ini dilakukan proses implementasi dan pengujian
setiap unit Sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau
berbasis Android. Proses pengujian Sistem informasi Geografis dengan
menggunakan metode black box testing [10].
D. Integration and
system testing Pada tahapan ini dilakukan proses pengujian Sistem informasi
Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau berbasis Android secara
keseluruhan.
E. Operation and
maintanance Setelah sistem digunakan selanjutnya melakukan perawatan terhadap
Sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau berbasis
Android tersebut.
D.KESIMPULAN
Peneliti melakukan
analisis data dan mendefinisikan setiap kebutuhan yang digunakan dalam membuat
Sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau berbasis
Android antara lain kebutuhan antarmuka atau input dan output dimana desian
antarmuka harus representatif, kebutuhan fungsional dari menu dan data yang di
simpan dan informasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan admin dan user,
kebutuhan software yaitu menyiapkan seluruh software yang digunakan untuk
membangun sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota Lubuklinggau
berbasis Android dan kebutuhan hardware yaitu menyiapkan seluruh hardware yang
digunakan untuk membangun sistem informasi Geografis pemetaan kantor dinas kota
Lubuklinggau berbasis Android. Proses analisis dilakukan dengan melakukan
wawancara dengan humas kota lubuklinggau dan masyarakat kota lubuklinggau.
Proses selanjutnya yaitu dengan melakukan observasi langsung dari 20 kantor
dinas yang terdapat di kota Lubuklinggau hanya 16 kantor dinas yang dikunjungi
guna menentukan titik latitude dan longitude
5.
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) PEMETAAN SEKOLAH BERBASIS WEB DI KECAMATAN
WONODADI KABUPATEN BLITAR (Jurnal Nasional)
A.LATAR BELAKANG (MASALAH)
Kecamatan Wonodadi merupakan salah satu wilayah baru yang sedang berkembang dan memiliki penyediaan sarana fisik pendidikan yang memadai serta tenaga pendidik berkualitas. Karena dalam pemetaan pendidikan di Kecamatan Wonodadi, sistem informasi yang dilakukan hanya menggunakan Peta wilayah yang ada. Terkait dengan ukuran peta yang relatif besar. Sehingga proses yang berjalan manual tidak akurat dan informasi yang dihasilkan menjadi lamban serta mengakibatkan pengambilan keputusan untuk pengolahan data pendidikan sangat sulit dan tidak teratur.
B.TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan identifikasi masalah, maka peneliti membuat sistem informasi geografis pemetaan sekolah berbasis web agar memudahkan proses pencarian data dan penanganan pendidikan tingkat dasar, menengah pertama dan menengah atas di Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar. Tujuan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu membangun sistem informasi geografis pemetaan sekolah dan implementasi sistem informasi geografis pemetaan sekolah berbasis web di Kecamatan Wonodadi.
C.METODE PENLITIAN
Metode
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan penulis
dalam penulisan skripsi ini adalah :
1. Wawancara (Interview) Penulis
melakukan wawancara dengan pihak yang berkaitan langsung dengan Dinas
Pendidikan tingkat kecamatan.
2. Studi Pustaka Studi kepustakaan
merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian.
Teori-teori yang mendasari masalah dan bidang yang akan diteliti dapat
ditemukan dengan melakukan studi kepustakaan.
3. Angket atau Kuesioner Kuesioner ini
diberikan kepada 10 responden, yang akan mencoba sistem dan menjawab pertanyaan
yang ada dalam angket. Tujuan dari kuesioner ini yaitu untuk mencari tahu
tangapan responden terhadap sistem yang telah dibuat. Berikut tabel kuisioner
yan di gunakan.
Metode
Analisa Sistem
Metode siklus kehidupan klasik atau model air
terjun (waterfall model) memberikan sebuah pendekatan pengembangan sistem yang
sistematik dan sekuensia.
a. Tahap Analisa Sistem Tahapan ini
untuk menganalisa sistem informasi geografis yang akan dibuat, menyusun
kerangka sistem informasi yang akan dirancang, pendefinisian tujuan sistem
informasi, mengenali potensi dan masalah yang ada serta memberikan alternatif
pemecahan masalah.
b. Tahap Perancangan Sistem Tahap
perancangan sistem informasi geografis yang akan dibuat, meliputi pembuatan
diagram konteks, DFD (Data Flow Diagram), ERD (Entity Relationship Diagram),
pengimplementasian ke dalam table dan keterkaitan antar table.
c. Tahap Perancangan Program Pembuatan
program sistem informasi geografis, pengimplementasian basis data ke dalam
program komputer, desain program, desain interface dan listing program. d.
Tahap Implementasi Sistem Menerapkan sistem informasi geografis berbasis web
pada suatu sistem untuk digunakan sesuai dengan kebutuhan pengguna. e. Tahap
Penyajian dan Evaluasi Mengevaluasi penyajian sistem informasi apakah sudah
sesuai dengan kriteria kebutuhan yang telah dirumuskan. Melakukan koreksi
terhadap kemungkinan adanya kesalahan dan kekurangan pada sistem informasi yang
telah dibuat.
Metode
Perancangan Sistem
Perancangan sistem merupakan fase dimana
diperlukan suatu keahlian perancangan untuk elemen-elemen komputer yang akan
menggunakan sistem yaitu pemilihan peralatan dan program komputer untuk sistem
yang baru.
DFD
(Data Flow Diagram)
1.Diagram Konteks Diagram koteks merupakan diagram yang terdiri
dari suatu proses yang menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram
konteks adalah level yang paling tinggi dari Data Flow Diagram (DFD), yang
menggambarkan keseluruhan input ke sistem dan output dari sistem.
2.DFD Level 1 Dalam pembuatan sistem aplikasi ini terdapat
beberapa entitas yang berhubungan langsung dengan sistem.
3. Flowchart Aplikasi Flowchart merupakan bagan dengan
simbol-simbol tertentu yang menggambarkan urutan prosedur dan proses suatu file
dalam suatu media. Pada diagram flowchart dijelaskan alur sebuah sistem yang
dimulai dari pengguna mengakses web sistem informasi geografis, kemudian masuk
dalam menu peta. Selanjutnya peta letak sekolah akan tampil. Maka informasi
data lokasi yang diperlukan diperoleh dan proses telah selesai.
4. ERD Entity Relatinship Diagram adalah model data untuk
menggambarkan hubungan antara satu entitas dengan entitas lain yang mempunyai
relasi (hubungan) dengan batasan-batasan.
5. Struktur Tabel Untuk menganalisis setiap informasi yang
terdapat pada tabel dapat dilihat pada struktur table
6. Kebutuhan Sistem Dalam menunjang pembuatan sistem informasi
ini, kebutuhan yang digunakan meliputi hardware, software serta bahan penunjang
lainnya.
7. Spesifikasi Hardware (Perangkat Keras) Hardware atau perangkat
keras yang digunakan dalam pembuatan sistem informasi geografis
8. Spesifikasi Software (perangkat Lunak) Kebutuhan software atau perangkat lunak penting bagi terciptanya sistem yang sedang dirancang
D.KESIMPULAN
Berdasarkan permasalahan yang telah
dibahas dan diselesaikan melalui laporan ini, maka terdapat beberapa kesimpulan
:
1. Pembuatan sistem informasi
geografis ini dilakukan untuk memudahkan pencarian lokasi sekolah di kecamatan
Wonodadi. Sistem ini menampilkan letak sekolah dari tingkat sekolah dasar, menengah
pertama dan menengah atas.
2. Kelebihan sistem informasi
geografis berbasis web ini memudahkan masyarakat atau pengguna dalam pencarian
letak sekolah, serta memberikan informasi mengenai sekolah yang ada di
kecamatan Wonodadi. Implementasi sistem ini menunjukan bahwa sistem informasi
geografis ini memiliki desain yang cukup bagus dengan memperoleh persentase
sangat setuju sebesar 43,58%, setuju sebesar 42,30%, dan biasa sebesar 14,10%.
Untuk kesesuaian sistem memperoleh persentase sangat setuju sebesar 42,99%,
setuju sebesar 42,01%, dan biasa sebesar 14,98%. Sedangkan untuk kemudahan
dalam penggunaan sistem memperoleh persentase sangat setuju sebesar 40,89%,
setuju sebesar 45,04% dan biasa sebesar 14,05%.
Komentar
Posting Komentar